Cara Cepat Baca Koran Di Internet


KEITH Rupert Murdoch tak pernah percaya bahwa koran akan mati. Meskipun mengakui tiras koran versi cetak terus turun, pemilik gergasi media asal Australia itu meyakini televisi dan Internet tak akan bisa membunuh koran.

“Bahkan koran akan mencapai puncak baru di abad ke-21 ini,” kata Murdoch beberapa waktu lalu. Menurut dia, media Internet bukanlah pengganti koran, melainkan pasar baru yang potensi pasarnya sangat besar. “Di abad ini, cara pengiriman koran mungkin berubah, tapi pembaca potensial koran pun bertambah berlipat kali.”

Data dari Asosiasi Surat Kabar Amerika Serikat mengirimkan kabar buruk itu. Sejak awal 1990-an, sirkulasi koran versi cetak di negeri itu terus turun. Setelah total sirkulasi koran di Amerika sempat menyentuh angka 63 juta eksemplar per hari, sejak dua tahun lalu total oplah koran di Negeri Abang Sam terperosok di bawah 48 juta eksemplar per hari.

Berarti ada sekitar 15 juta eksemplar koran cetak yang “hilang” atau setara dengan tujuh kali oplah The Wall Street Journal, koran beroplah terbesar di Amerika saat ini. Dalam bukunya, The Vanishing Newspaper, Phillip Mayer meramal pada 2044 tak akan ada lagi koran versi cetak di Amerika.

Tapi apakah koran akan benar-benar mati? Menurut Murdoch, mereka hanya bergeser ke versi koran digital. Masa depan koran, kata dia, memang ada di versi digital ini. Hasil survei Nielsen Online di Amerika menunjukkan pengakses koran lewat Internet ini semakin besar. Selama tiga bulan pertama 2010, rata-rata ada 71,6 juta pengunjung (unique visitors) yang melongok situs-situs koran Internet di Amerika. “Masalah utama koran hanyalah model bisnisnya, bukan isi beritanya,” kata Eric Schmidt, Kepala Eksekutif Google.

Pembaca koran Internet di Indonesia juga menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Pembaca koran digital Koran Tempo (http://epaper.korantempo.com), misalnya, menurut Handy Dharmawan, Kepala Biro Sistem Informasi Manajemen Tempo, sekarang sudah mencapai 32 ribu pengunjung. “Sekitar 90 persen pembaca dalam negeri,” kata Handy. Sisanya menyebar ke India, Australia, hingga Amerika.

Seperti apa model koran masa depan ini memang belum ada satu resep mujarab yang bisa memuaskan selera semua pembaca koran. Apakah nanti koran tak hanya bisa dibaca dari layar komputer, tapi juga bisa dinikmati dari layar telepon seluler cerdas yang lebih mini seukuran BlackBerry? Format koran generasi baru ini masih terus berubah dan berkembang.

Semula, koran digital seperti e-paper Koran Tempo, Kompas, dan beberapa koran di Indonesia hanya memuat salinan teks dan foto seperti versi cetak. Sekarang surat kabar digital Koran Tempo yang menggunakan aplikasi buatan Pressmart Media dan versi Apple iPad Kompas yang menggunakan aplikasi buatan Wood Wing Software juga bisa menampilkan animasi atau video berbasis Adobe Flash. Dengan demikian, iklan atau cuplikan berita bisa ditampilkan dalam format video layaknya televisi.

Pressmart adalah perusahaan publikasi media yang berkantor pusat di Hyderabad, India, sedangkan Wood Wing merupakan perusahaan publikasi media dari Kota Zaandam di Belanda. Beberapa media besar, seperti majalah Time, Sports Illustrated, dan harian The Guardian, juga menjadi klien mereka.

Kalaupun ada sedikit masalah, bagi pengakses Internet di Indonesia yang kecepatan koneksinya kebanyakan masih lelet, membaca koran Internet, apalagi yang dilengkapi video, cukup berat. “Karena server kami ada di luar negeri,” kata Handy Dharmawan.

Beberapa mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang tergabung di PT Nightspade Multi Kreasi membuat aplikasi koran digital BacaKoran. Aplikasi ini dikembangkan menggunakan Adobe Flash Platform dan berjalan di atas Runtime Adobe Air. BacaKoran dapat bekerja pada sistem operasi Microsoft Windows, Apple Macintosh, dan Linux.

Ada beberapa hal yang membedakan BacaKoran dengan e-paper buatan Pressmart ataupun Softpress yang dipakai Kompas. “Tampilan Pressmart dan Softpress semata replika visual dari versi cetaknya,” kata Garibaldy W. Mukti, Kepala Pemasaran Nightspade, pekan lalu.

BacaKoran tidak menampilkan salinan versi utuh koran cetak, tapi berita per berita. Bagi pembaca, BacaKoran membuat membaca koran Internet lebih nyaman. Tak perlu lagi menyeret tetikus naik-turun untuk membaca satu berita utuh. Fitur serupa sebenarnya sudah ada di Pressmart. Tinggal sekali klik di berita yang dituju, di layar akan ditampilkan hasil pembesaran satu berita utuh.

Dengan BacaKoran, tidak menjadi soal jika Anda tidak mempunyai koneksi Internet berkecepatan tinggi. Sebab, berbeda dengan Pressmart, membaca koran digital di BacaKoran tak perlu terus-menerus tersambung dengan Internet. Cukup sekali tersambung dengan Internet untuk mengunduh koran. Kemudian Anda bisa membaca koran kapan pun mau, sekalipun tanpa sambungan Internet.

BacaKoran merupakan aplikasi yang diinstal di komputer, sedangkan Pressmart ataupun Softpress adalah pembaca koran digital berbasis web. Dengan cara seperti ini, membaca koran menjadi lebih cepat karena korannya sudah tersimpan di komputer. Supaya tak makan waktu lama saat mengunduh korannya, Nightspade mengembangkan teknik kompresi untuk memampatkan ukuran file-nya. “Satu edisi koran utuh lengkap dengan gambar rata-rata besar file-nya hanya sekitar 2 megabita,” kata Garibaldy. Jauh lebih kecil daripada ukuran file versi PDF dari Pressmart.

Model BacaKoran ini agak mirip Kompas Editor’s Choice yang menggunakan aplikasi dari Wood Wing Software. Bedanya, Kompas versi Apple iPad ini hanya menampilkan berita-berita hasil pilihan tim editor, bukan keseluruhan versi cetaknya.

Serupa dengan Pressmart ataupun Wood Wing, BacaKoran pun bisa menampilkan iklan atau berita dalam bentuk animasi dan video berbasis Flash, hal yang terang tidak bisa dilakukan koran versi cetak. Untuk mengatur pemasangan iklan, BacaKoran menyediakan Sistem Manajemen Iklan. Melalui sistem ini, pemilik media dapat mengatur durasi pemasangan iklan ataupun berapa sering iklan itu akan ditampilkan.

Nightspade sudah menawarkan BacaKoran ke beberapa perusahaan media, seperti Tempo. Namun memang susah memuaskan pembaca dan sekaligus perusahaan media. Menurut Handy Dharmawan, model mengunduh koran seperti yang dipakai BacaKoran justru malah merepotkan pembaca. Tempo, kata dia, juga kurang cocok dengan tampilan BacaKoran yang hanya memunculkan berita per berita. “Iklannya jadi tidak kelihatan,” kata Handy

source : majalahtempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/16/ILT/mbm.20100816.ILT134333.id.htm

2 Responses

  1. postingan yang bermanfaat, baru tau nih…
    terima kasih sob…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: